Resensi Film Budi Pekerti
Sumber: https://www.liputan6.com/
A. Identitas Film
|
Judul Film |
: |
Budi Pekerti |
|
Durasi |
: |
110 menit |
|
Genre |
: |
Drama |
|
Peringkat Usia |
: |
13 tahun ke atas |
|
Sutradara |
: |
Wregas Bhanuteja |
|
Produser |
: |
Adi Ekatama, Ridla An-Nuur, Wilawati, dan Nurita
Anandia W. |
|
Penulis Naskah Film |
: |
Wregas Bhanuteja |
|
Penulis Cerita Film |
: |
Wregas Bhanuteja |
|
Penata Musik |
: |
Yennu Ariendra |
|
Sinematografer |
: |
Gunnar Nimpuno |
|
Penyunting |
: |
Ahmad Yuniardi |
|
Pemeran |
: |
Sha Ine Febriyanti (Bu Prani), Dwi Sasono (Pak Didit),
Angga Yunanda (Muklas), Prilly Latuconsina (Tita), Omara Esteghlal (Gora), Ari
Lesmana (Tunas) |
|
Negara |
: |
Indonesia |
|
Tanggal Rilis |
: |
9 November 2023 (TIFF) |
B.
Sinopsis
Film
Film Budi Pekerti yang ditulis dan disutradarai oleh
Wregas Bhanuteja ini pertama kali rilis di layar lebar pada tanggal 9 November
2023. Film ini berlatar di Yogyakarta saat masa pandemi. Berfokus pada suatu
keluarga yang beranggotakan tokoh Bu Prasni (Sha Ine Febriyanti, Pak Didit (Dwi
Sasono), Muklas (Angga Yunanda), dan Tita (Prilly Latuconsina). Film bermula
dengan bangkrutnya bisnis yang dimiliki oleh Pak Didit karena banyak memesan
Otopet. Sedangkan Bu Prani merupakan seorang guru BK (Bimbingan dan Konseling)
SMP. Pak Didit menderita penyakit bipolar. Bu Prani sebagai istri pun mengantar
dan mendampingi Pak Didit di rumah sakit. Kasihan dengan keadaan Pak Didit yang
ingin mati karena tidak memiliki biaya untuk pengobatan, Bu Prani pun berupaya
untuk membuat Pak Didit senang dengan membelikannya kue putu di Mbok Rahayu.
Dengan menggunakan otopet, Bu Prani bergegas menuju Kue
Putu Mbok Rahayu. Setibanya di sana, ia mengantre dengan sabar untuk membeli
kue putu. Namun, tanpa diduga, ada seseorang yang menyerobot antrean. Bu Prani
mencoba memberikan nasehat, tetapi si penyerobot tidak menerima dengan baik dan
malah memaki Bu Prani. Emosi Bu Prani pun terpicu, menyebabkan terjadinya
pertengkaran di antara mereka. Kejadian tersebut terekam oleh pengunjung lain,
dan rekaman tersebut diunggah di media sosial, kemudian menjadi viral. Namun
rekaman tersebut dipotong oleh orang yang tidak bertanggung jawab membuat
pemahaman penonton adalah Bu Prani sedang memarahi nenek penjual kue putu. Video
yang beredar di media sosial sudah sampai ke telinga pihak sekolah dan para
siswa. Bu Prani, seorang guru senior yang teladan, awalnya akan dipromosikan
menjadi wakil kepala sekolah. Namun setelah kejadian tersebut, pihak lembaga
yang menyeleksi mulai mempertimbangkan kelayakan Bu Prani untuk posisi
tersebut. Pihak sekolah menganggap bahwa Bu Prani melanggar kode etik sekolah.
Tentu hal tersebut membuat karir Bu Prani menjadi terancam. Tidak ingin Pak
Didit mengetahui kasus yang menimpa Bu Prani, kedua anak mereka yaitu Muklas
dan Tita pun membantu untuk keluar dari permasalahan. Usaha mereka pun sedikit
membuahkan hasil karena kejadian tersebut mereda.
Seiring berjalannya waktu, masalah yang lalu pun muncul
lagi. Dulu, Bu Prani pernah memiliki siswa bernama Gora. Gora merupakan siswa
nakal yang suka berkelahi. Sebagai guru BK, Bu Prani memberikan hukuman kepada
Gora yaitu membantu menggali kuburan sebagai refleksi atas perbuatan Gora. Gora
melakukan hukuman tersebut sembari membuat video vlog dengan Bu Prani,
Video tersebut diunggah di media sosial dan viral juga. Bu Prani pun
dianggap sebagai guru psikopat. Dari kejadian tersebut, Bu Prani mendapatkan bantuan
psikologis dari Bu Tunggul yang merupakan psikolog. Bu Tunggul mempertemukan Bu
Prani dengan Gora untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka pun mendapatkan
titik terang. Pihak sekolah memanggil Gora untuk membuat video klarifikasi
bahwa ia terobsesi dengan tanah kuburan. Pihak sekolah juga memberikan pilihan
kepada Bu Prani yaitu video klarifikasi Gora diunggah ke media sosial atau Bu
Prani mengundurkan diri dari sekolah. Bu Prani memilih untuk mengundurkan diri
dan kembali ke rumahnya di Kulon Progo.
C.
Kelebihan
Wregas Bhanuteja sukses menyutradarai film Budi Pekerti
menjadi film yang layak ditonton. Wregas mampu mengemas cerita dengan
mengangkat latar Yogyakarta. Latar tersebut dibawanya untuk membantu rangkaian
kisah keluarga Bu Prani hingga memiliki nuansa lokal yang kental. Wregas sangat
cermat dalam menuliskan dan mengarahkan para aktornya dalam berdialog. Wregas
mampu menentukan mana yang harus menggunakan bahasa Jawa ngoko, krama
inggil, umpatan dan mengkombinasikan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia.
Hal yang menjadi kelebihan dari film ini adalah
mengangkat isu terbaru yang ada di kalangan masyarakat saat ini. Isu tersebut
adalah kekejaman media sosial yang menimbulkan berbagai perspektif dari
masyarakat dalam menanggapi sebuah unggahan. Dari aspek penyajian, visual yang
ditampilkan memiliki cinematography yang baik dengan color grading
yang memanjakan mata penonton. Aspek tersebut juga mendukung suasana yang ada
di dalam film. Karena film Budi Pekerti menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa
untuk berdialog, tidak lupa disajikan subtitle berbahasa Indonesia untuk
memudahkan penonton dari berbagai suku di Indonesia untuk menikmati film
tersebut.
D.
Kekurangan
Film ini menyajikan sebuah cerita yang cukup sederhana
dan mudah diprediksi. Fokus utama dari konflik dalam film ini adalah bagaimana
Bu Prani menghadapi dampak dari cancel culture yang menimpanya. Namun,
film ini tidak mengeksplorasi secara mendalam berbagai aspek dari cancel
culture, termasuk pengaruh psikologis yang dialami oleh korban, proses
klarifikasi, serta cara untuk mengatasi situasi tersebut.
Karakter-karakter dalam film ini kurang mengalami
perkembangan yang signifikan. Meskipun Bu Prani digambarkan sebagai sosok yang
baik hati dan tulus, namun dia juga terkadang mudah terpancing emosinya.
Karakter bapak yang menyerobot antrian juga digambarkan secara sangat
hitam-putih, sebagai sosok yang jahat dan tidak memiliki empati.
Akhir dari film ini tidak begitu memuaskan. Meskipun Bu
Prani akhirnya berhasil membersihkan namanya, namun dia harus merelakan
pekerjaannya. Hal ini membuat akhir cerita terasa menggantung dan tidak
memberikan jawaban yang jelas mengenai bagaimana mengatasi cancel culture.
E.
Pesan
moral
Film “Budi Pekerti” mengangkat tema fenomena cancel
culture yang terjadi di media sosial. Cancel culture merupakan fenomena
pengguna media sosial memboikot bahkan menghujat kepada seseorang atau kelompok
secara online karena dianggap melakukan kesalahan. Pesan moral yang
dapat diambil dari film ini adalah lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Pelajari dan cari tahu terlebih dahulu tentang suatu kejadian yang viral
sebelum berkomentar.
Dari cerita yang disajikan oleh film ini, dapat
disimpulkan bahwa kita sebagai pengguna media sosial untuk lebih berhati-hati
dalam menerima informasi dan lebih baik untuk mencari tahu kebenarannya. Lebih
penting juga untuk penonton adalah jangan menjadikan cancel culture
sebagai kebiasaan untuk menanggapi suatu keburukan orang lain tanpa tahu
informasi yang kita terima itu benar atau salah. Karena hal tersebut dapat
menghancurkan reputasi seseorang secara tidak adil.
Jadi pengen nonton filmnya
BalasHapusCepetan nonton dong wkwkw
HapusUdah nonton, gantung huhu😭
BalasHapusBener bangettt sad
HapusEmang relate di kehidupan ini filmya, ternyata sosmed serem ya kalo kita gak bijak gunainnya...
BalasHapusBenerr
Hapusasli ni film bagus banget
BalasHapusjelas
Hapus